Pernahkah Anda berdiri di depan Universal Testing Machine atau Tensile Testing Machine, melihat sampel ditarik perlahan, lalu ketika craccckk—sampel putus, monitor menampilkan sebuah kurva melengkung, dan Anda membatin:
“Oke, ini maksud garis bengkok-bengkok ini apa, ya? Yang penting nilainya masuk standar, kan?”

Jika iya, tenang saja, Anda tidak sendirian. Banyak praktisi di lapangan yang hanya fokus pada angka Max Force (beban maksimal) atau titik putusnya saja. Padahal, grafik Stress-Strain (Tegangan-Regangan) itu ibarat “rekam medis” dari material yang sedang Anda uji. Jika kita bisa membacanya dengan benar, ada banyak cerita tentang kualitas, elastisitas, dan keamanan yang bisa diungkap.
Mari kita bedah grafik ini, tanpa rumus yang bikin pusing, tapi tetap full daging!
Grafik Bukan Sekadar Garis Lengkung
Banyak kesalahan produksi atau kegagalan struktur terjadi bukan karena materialnya tidak kuat menahan beban puncak, tapi karena material tersebut sudah ” menyerah” (mengalami deformasi permanen) jauh sebelum ia putus.
Membaca grafik uji tarik dengan setengah-setengah berisiko meloloskan material yang sebenarnya tidak memenuhi standar keamanan, terutama jika Anda bekerja di sektor konstruksi, otomotif, atau manufaktur logam dengan yang ketat.

Membedah Anatomi Kurva Uji Tarik
Bayangkan grafik ini punya koordinat X dan Y.
- Sumbu Y (Vertikal): Stress (Tegangan) – Seberapa besar gaya yang ditahan per luas penampang.
- Sumbu X (Horizontal): Strain (Regangan) – Seberapa panjang material itu melar.
Nah, perjalanan si material saat ditarik itu terbagi jadi 4 fase penting. Yuk, kita telusuri satu per satu:
1. Fase Elastis (Garis Lurus di Awal)
Perhatikan garis lurus yang menanjak curam di awal grafik. Di sini berlaku Hukum Hooke.
- Artinya: Material masih seperti karet gelang. Kalau mesin dimatikan dan beban dilepas di fase ini, material akan kembali ke bentuk aslinya.
- Poin Kunci: Kemiringan garis ini disebut Modulus Young atau kekakuan. Semakin tegak garisnya, semakin kaku materialnya.
2. Titik Luluh (Yield Point)
Ini adalah momen kritis! Di ujung garis lurus tadi, grafik akan mulai sedikit berbelok atau melandai.
- Artinya: Ini adalah “titik tanpa jalan kembali” (point of no return). Begitu melewati titik ini, material Anda sudah mengalami deformasi plastis. Artinya, meskipun beban dilepas, material tidak akan kembali ke ukuran semula. Ia sudah melar permanen.
- Kenapa Penting? Dalam desain teknik, kita biasanya membatasi beban kerja di bawah titik ini agar struktur tidak berubah bentuk.
3. Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS)
Ini adalah puncak gunung tertinggi di grafik Anda.
- Artinya: Ini adalah beban maksimum absolut yang bisa ditahan material sebelum ia mulai “menyerah total”.
- Kaitannya dengan Regulasi: Di Indonesia, kesesuaian nilai ini sangat ketat diatur. Misalnya, untuk Baja Tulangan Beton, pemerintah mewajibkan pengujian tarik mengacu pada SNI 2052:2017 atau standar turunannya seperti SNI 8389. Jika nilai kekuatan tarik maksimum di grafik tidak mencapai angka minimum di tabel SNI, maka batch produksi tersebut bisa dianggap produk gagal (BS) dan ilegal untuk diedarkan.
4. Titik Putus (Fracture Point)
Setelah melewati puncak kekuatan tarik maksimum, kurva akan turun. Kenapa turun? Karena material mulai mengalami necking (mengecil di bagian tengah) hingga akhirnya… Prak! Putus.
- Artinya: Ini adalah akhir dari pengujian. Titik di mana material benar-benar terpisah.

Akurasi Adalah Kunci
Membaca grafik itu satu hal, tapi memastikan grafik tersebut jujur adalah hal lain.
Seringkali, grafik yang “aneh” atau sulit dibaca bukan disebabkan oleh materialnya, melainkan karena Mesin penguji ataupun aksesoris yang digunakan untuk pengujian tersebut sudah tidak lagi baik untuk digunakan. Contoh kecilnya seperti:
- Sensor (Load Cell) tidak sensitif atau belum dikalibrasi.
- Grip (penjepit) yang slip, membuat grafik “bergerigi” di awal.
- Software yang jadul dan tidak user-friendly, sehingga sulit menentukan mana Yield Point yang akurat.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian mengenai standarisasi laboratorium uji, alat ukur yang presisi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Anda tidak ingin mengambil risiko data yang bias, bukan?
Tingkatkan Kualitas Lab Anda Bersama Kami
Di Testing Indonesia, kami memahami bahwa Tensile Testing Machine bukan sekadar alat penarik besi saja. Ia adalah instrumen validasi kualitas produk Anda.
Kami menyediakan solusi Tensile Testing Machine dengan teknologi terkini yang:
- Menghasilkan grafik resolusi tinggi yang halus dan mudah dibaca.
- Software cerdas yang otomatis menghitung Modulus, Yield, dan Ultimate Tensile Strength dengan presisi.
- Didukung layanan purna jual dan kalibrasi untuk memastikan alat Anda selalu sesuai standar (ISO/SNI).

LIHAT PILIHAN TENSILE TESTING MACHINE TERBAIK UNTUK MATERIAL ANDA DI SINI!
Jangan biarkan keraguan pembacaan data menghambat produktivitas atau membahayakan kualitas produk Anda. Mari diskusikan kebutuhan spesifikasi alat uji tarik yang paling pas untuk material Anda.
Konsultasikan kebutuhan Anda sekarang:
📍 Office: Jl. Radin Inten II No 61 B, Duren Sawit, Jakarta Timur 📞 Phone: 021-2956-3045 📱 Whatsapp: 0823-1234-7066 (Bpk. Rizki) 📧 Email: sales@testingindonesia.co.id
Jangan kompromi soal kualitas. Pastikan material Anda teruji presisi bersama Testing Indonesia.

