Hammer Test adalah salah satu metode uji beton non-destruktif yang paling sering dipakai untuk mengecek keseragaman dan kondisi permukaan beton. Salah satu data utama yang dihasilkan dari pengujian ini adalah rebound number, yaitu angka pantulan yang muncul di alat setelah palu menumbuk permukaan beton.

Meski begitu, hasil di lapangan tidak bisa cuma dicatat satu angka lalu selesai. Dibutuhkan beberapa titik uji supaya nilainya lebih representatif dan akurat. Karena itu, memahami cara menghitung rebound number Hammer Test menjadi bagian penting dalam mengolah data hasil pengujian, apalagi kalau hasilnya nanti dipakai untuk mengambil keputusan soal kualitas beton.

Apa Itu Rebound Number pada Hammer Test?

Rebound number adalah angka yang ditunjukkan rebound hammer setelah mekanisme palunya memantul dari permukaan beton. Nilai ini menggambarkan karakteristik kekerasan permukaan beton yang diuji. Semakin tinggi angka pantulannya, biasanya permukaan beton tersebut memang semakin keras. Tapi perlu diingat, angka ini tidak bisa langsung dianggap sebagai nilai pasti kuat tekan beton dalam satuan MPa.

Menurut standar ASTM C805/C805M, fungsi utama rebound number sebenarnya ada tiga: 

  1. Mengecek keseragaman kualitas beton di suatu area 
  2. Mencari titik-titik lemah yang kualitasnya kurang bagus
  3. Memperkirakan kuat tekan meski tetap harus dihitung ulang lewat rumus atau korelasi yang sesuai. 

Artinya, hasil Hammer Test tidak bisa ditelan mentah-mentah. Data tersebut harus diolah dan dianalisis dulu sesuai standar serta kondisi asli beton di lapangan sebelum bisa dipakai sebagai acuan.

Berapa Banyak Titik Uji yang Diperlukan?

Supaya proses menghitung rebound number menghasilkan angka yang akurat, jumlah titik uji dan cara menghitungnya sangat tergantung pada standar acuan yang dipakai.

Kalau menggunakan standar ASTM C805, sistem yang dipakai adalah nilai rata-rata dengan langkah-langkah berikut:

  • Ambil 10 bacaan pada satu area untuk mendapatkan nilai rata-rata awal.
  • Buang data yang menyimpang, yaitu angka yang selisihnya lebih dari 6 poin di atas atau di bawah rata-rata awal, lalu hitung ulang rata-ratanya dari data yang tersisa.
  • Uji ulang di lokasi baru jika ada lebih dari 2 data yang selisihnya melebihi 6 poin, karena seluruh data di area tersebut dianggap tidak valid.

Sementara itu, standar Eropa EN 12504-2 punya pendekatan yang sedikit berbeda. Alih-alih memakai nilai rata-rata, standar ini menggunakan nilai tengah atau median sebagai patokan hasil akhir, lengkap dengan aturan toleransi penyimpangannya sendiri.

Rumus dan Contoh Menghitung Rebound Number

Secara sederhana, rumus rata-rata rebound number adalah sebagai berikut:

R = ΣRᵢ / n

Keterangan:

  • R = rata-rata rebound number
  • ΣRᵢ = jumlah seluruh nilai rebound number
  • n = jumlah pembacaan yang digunakan

Sebagai contoh, berikut hasil 10 pembacaan di lapangan: 42, 44, 43, 45, 41, 44, 43, 42, 44, dan 43. Jumlah seluruh pembacaan tersebut adalah 431, sehingga rata-ratanya adalah 431 ÷ 10 = 43,1. Jadi, rata-rata rebound number awal dari area tersebut adalah 43,1.

Namun proses menghitung rebound number tidak selalu berhenti di angka rata-rata awal. Data tetap perlu diperiksa dulu untuk melihat apakah ada pembacaan yang menyimpang terlalu jauh dari nilai lainnya.

Cara Menentukan Data yang Harus Dibuang

Ambil contoh kasus lain: 10 pembacaan menghasilkan angka 42, 44, 43, 45, 41, 44, 43, 42, 44, dan 55. Rata-rata awalnya adalah (42+44+43+45+41+44+43+42+44+55) ÷ 10 = 44,3.

Setiap angka lalu dibandingkan dengan rata-rata tersebut. Nilai 55 memiliki selisih 55 − 44,3 = 10,7. Karena selisihnya lebih dari 6 poin, angka ini harus dikeluarkan dari perhitungan sesuai pendekatan ASTM C805. Rata-rata pun dihitung ulang memakai sembilan data yang tersisa: 388 ÷ 9 = 43,11, atau dibulatkan menjadi sekitar 43,1.

Proses penyaringan seperti ini penting dilakukan karena satu pembacaan yang terlalu tinggi atau rendah bisa menggeser rata-rata akhir secara signifikan, sehingga hasil interpretasinya jadi kurang mewakili kondisi beton yang sebenarnya.

Faktor yang Memengaruhi Hasil Rebound Number

Perhitungan yang benar tetap harus didukung pengambilan data yang benar pula. Ada 4 kondisi yang bisa memengaruhi angka rebound number di lapangan Seperti: 

  1. Kondisi permukaan beton adalah salah satunya permukaan yang kasar, rusak, berongga, atau tidak representatif bisa menghasilkan pembacaan yang berbeda, sehingga area pengujian sebaiknya dipilih pada permukaan yang relatif rata dan seragam.
  2. Kelembapan beton juga berpengaruh, termasuk kadar air pada permukaannya, sehingga kondisi beton saat diuji perlu dicatat dalam laporan. Arah atau orientasi rebound hammer terhadap permukaan beton turut memengaruhi hasil, dan koreksi orientasi perlu dilakukan sesuai metode serta petunjuk alat yang dipakai.
  3. Karbonasi juga jadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Lapisan permukaan beton yang mengalami karbonasi bisa menghasilkan rebound number yang berbeda dari bagian beton di bawahnya, dan ASTM sendiri mencantumkan kedalaman karbonasi sebagai salah satu hal yang perlu dipertimbangkan saat menginterpretasikan hasil.
  4. Jenis alat hammer test digital yang digunakan juga berpengaruh. Dua alat dengan desain nominal yang sama belum tentu menghasilkan angka yang identik,  ASTM mencatat bahwa instrumen berbeda bisa menghasilkan perbedaan pembacaan sekitar 1–3 unit. Karena itu, untuk membandingkan beberapa lokasi pengujian, sebaiknya gunakan alat yang sama supaya hasilnya lebih konsisten.

Apakah Rata-rata Rebound Number Sama dengan Kuat Tekan Beton?

Jawabannya tidak. Rata-rata rebound number bukan nilai kuat tekan beton, sehingga angka seperti 43,1 tidak boleh langsung ditulis sebagai 43,1 MPa. Untuk memperkirakan kuat tekan, dibutuhkan hubungan korelasi antara rebound number dan kuat tekan beton yang sesuai dengan campuran beton, alat, serta kondisi pengujian yang dipakai.

ASTM menjelaskan bahwa kurva atau hubungan dari produsen alat hanya memberikan indikasi relatif, dan estimasi kekuatan tetap membutuhkan korelasi yang sesuai dengan kondisi lapangan. Bahkan, Hammer Test sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk menerima atau menolak mutu beton, karena sifatnya yang non-destruktif membuat hasilnya lebih cocok sebagai indikator awal ketimbang keputusan akhir.

LIHAT PRODUK HAMMER TEST KAMI DISINI!

Pada dasarnya, cara menghitung rebound number Hammer Test di lapangan cukup sederhana: jumlahkan seluruh pembacaan lalu bagi dengan jumlah data yang digunakan. Namun, pengolahan hasilnya tidak boleh dilakukan sembarangan. Kalau memakai ASTM C805/C805M, lakukan 10 pembacaan, hitung rata-rata awal, periksa data yang menyimpang lebih dari 6 poin, keluarkan data yang memenuhi kriteria tersebut, lalu hitung ulang rata-ratanya. Jika terlalu banyak data yang menyimpang, pengujian perlu diulang di titik yang baru.

Yang tak kalah penting, hasil akhirnya harus diinterpretasikan berdasarkan standar pengujian, kondisi permukaan, kelembapan, orientasi alat, karbonasi, hingga karakteristik beton itu sendiri. Dengan prosedur yang tepat, data hasil menghitung rebound number bisa menjadi informasi yang jauh lebih konsisten untuk mengevaluasi keseragaman beton di lapangan.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan estimasi kuat tekan, hasil Hammer Test sebaiknya tidak berdiri sendiri. Gunakan korelasi yang sesuai dan, bila perlu, kombinasikan dengan metode pengujian beton lainnya agar interpretasi kondisi struktur menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Butuh Bantuan Pengujian Beton yang Akurat?

Kalau Anda butuh layanan Rebound Hammer Test atau pengujian beton non-destruktif lainnya dengan hasil yang akurat dan sesuai standar, Testing Indonesia siap membantu. Tim kami berpengalaman menangani berbagai proyek konstruksi, mulai dari pengujian di lapangan hingga interpretasi data sesuai standar ASTM maupun EN. Jangan ragu untuk berkonsultasi lebih dulu sebelum menentukan metode pengujian yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek Anda.

Hubungi kami di:

  • Perusahaan: Testing Indonesia
  • Office: Jl. Radin Inten II No 61 B, Duren Sawit, Jakarta Timur
  • Phone: 021-2956-3045
  • WhatsApp: 0823-1234-7066 (Rizki)
  • Email: sales@testingindonesia.co.id